Pertanyaan seperti itu, kalau, datangnya dari diri kita sendiri, pasti, akan mendapat jawaban yang jujur, apa adanya, sesuai fakta.
"Ya, dulu aku pernah ngambil anu di sini atau di sana, lalu anu di sana, anu di sini."
Atau, aku gak pernah mencuri. Apapun jawabannya, itu pasti jujur. Sekali lagi jika pertanyaan itu datang dari diri sendiri. Lebih seperti, aku pernah mencuri gak sih, selama ini. Lalu memori membuka semua lembaran-lembarannya tanpa kecuali. Dan, akan diakui.
Tapi kalau pertanyaan itu dari orang lain, tunggu dulu. Siapa dulu yang tanya. Kalau yang tanya temen akrab, mungkin akan dijawab dengan jujur. Kalau gak, biar orang tua atau kerabat sekali pun belum tentu kita akan menjawab dengan jujur.
Akan ada banyak pertimbangan dan perhitungan kalau pertanyaan, apakah kamu pernah mencuri, itu dari orang lain. Kecuali kalau kita gak pernah mencuri. Siapa pun yang tanya gak akan jadi masalah.
Sementara, kebanyakan dari kita, walaupun kecil dan receh banget, pasti pernah mencuri. Karena definisi mencuri itu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Uang sisa belanjaan ibu atau uang receh bapak yang ketinggalan di meja sekalipun jika belum diberikan pada kita, itu bukan hak kita. Kalau kita ambil, tetap bisa disebut mencuri. Apalagi kalau dengan sengaja kita menyusup kamar bapak buat mengambil isi dompetnya.
Dan, meskipun receh, bukan sesuatu yang mudah lho, untuk mengakui, jika ada orang yang tanya, apalagi kalau mencurinya lebih besar, atau lebih serius. Kita bisa saja mengakui pernah mencuri, tapi jika si penanya adalah tukang gosip yang demen menggunting dalam lipatan, atau menusuk dari belakang, senang melihat teman susah, bisa berbahaya.
Jadi pertanyaan, apakah kamu pernah mencuri itu tidak akan mendapat jawaban yang jujur jika ditanyakan orang lain pada kita. Bisa, tapi sulit.
Misalnya kita sedang menghadapi interview kerja, dan di depan kita ada HRD menanyakan pertanyaan itu. Di jawab iya, hampir pasti pertaruhannya adalah gak diterima kerja, dijawab tidak pasti yang tanya gak percaya. Dan menjadikannya alasan untuk menilai kita sepihak.
Begini salah begitu salah, kan?
Inti dari pembahasan, "apakah kamu pernah mencuri", ini adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab. Ini adalah buah simalakama. Dimakan ngeracunin, gak dimakan melambai-lambai ngeracunin pikiran.
Kira-kira harus bagaimana?
Kembali ke kita lagi. Gak ada kewajiban untuk mengakui atau tidak. Kejujuran bukan dinilai dari anda mengakui pernah mencuri atau tidak.
Yang terpenting kita jujur pada diri sendiri, itu sudah merupakan pengakuan. Orang lain tidak bisa menuntut untuk tahu hitam putih kita semuanya.
Kalau sekiranya di kemudian hari pengakuan itu tak akan merepotkan, kita bisa mengakuinya karena itu bisa melegakan. Perbuatan mencuri itu walaupun kecil atau receh, sebenarnya mengganggu batin kita. Menimbulkan perasaan bersalah, perasaan berdosa. Jika kita mengakuinya akan terasa rilis, lega.
Tapi semua itu adalah tentang perasaan. Sekali lagi yang terpenting adalah kita jujur pada diri sendiri, kita berhak atas kejujuran diri kita. Pengakuan pada diri sendiri juga bisa membantu mengangkat beban dari rasa bersalah atau berdosa. Dan cukupkan itu terjadi di masa lalu, entah masa kecil atau remaja, dan yang terpenting jangan sampai terjadi lagi setelah kita tahu itu salah.

0 Komentar