Asal Cuap : Kapan Anda Berhati-hati?


Kalau mau jujur, pertanyaan itu akan sering terjawab, setelah kita mendapat masalah. Benar, kan? Terserah anda. Tapi biasanya memang anda akan berhati-hati dalam mengendarai mobil atau sepeda motor jika anda pernah mendapat masalah. Entah itu jatuh, menyerempet, atau keserempet, menabrak atau ditabrak.

Yang lebih seru adalah yang menyangkut orang banyak di suatu kampung atau suatu pemukiman atau komplek. Biasanya mereka akan mulai berpikir untuk mengadakan giliran jaga malam atau ronda setelah sebelumnya mereka kemalingan. Atau mereka ramai-ramai memberihkan selokan di sekitar pemukiman mereka setelah kebanjiran.
Itu sering terjadi pada kita. Tapi biasanya kita tidak pernah kapok. Kita akan mengulang hal yang nyaris sama. Kalau misalnya sudah rutin diadakan giliran jaga malam, biasanya kita akan bosan karena kita hanya akan begadang sepanjang malam. Kita tidak mungkin berharap maling akan datang, karena mestinya maling tak akan menyatroni suatu kawasan pemukiman yang setiap malam dijaga warga. Kalaupun maling nekat datang, kita belum tentu mampu dengan gagah berani menangkapnya. Kalau sudah begitu, biasanya semangat jaga malam menjadi melempem lagi. Banyak yang mulai absen dengan berbagai alasan sampai akhirnya jaga malam terhenti sendiri, lalu maling mulai berpikir untuk datang lagi.
Berputar saja kan?
Kebiasaan seperti itu akan sulit dihilangkan. Padahal semestinya kita selalu berhati-hati dalam segala hal agar kita bisa meminimalisir resiko. Terkadang seseorang mengatakan, sudah berhati-hati kalau memang apes ya, apes saja. Benar, tetapi secara logika kita bisa berpikir dengan ringan bahwa jika berhati-hati saja seseorang bisa terkena masalah, apalagi jika tidak berhati-hati.
Kita tahu bahwa nyawa kita masing-masing hanya satu, jika kita ugal-ugalan dalam berkendara di jalanan, resikonya adalah nyawa kita dan nyawa orang lain yang mungkin ikut melayang akibat ketidakhati-hatian kita, tapi kenyataannya kita sering melupakan itu karena tertutup dengan kebanggaan akan tunggangan kita yang keren dan obsesi kecepatan maksimal yang mungkin bisa dicapai dan pandangan kekaguman orang-orang. Percayalah bahwa tak ada orang yang memuji anda ketika anda melaju ugal-ugalan di jalanan, sumpah serapah mungkin bisa anda abaikan, tapi mereka berharap anda celaka. Harapan seringkali menjadi doa. Jangan sepelekan orang banyak yang mendoakan anda celaka.
Jadi, besar atau kecil resikonya, berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu, karena besar atau kecil resiko tetaplah resiko dan sebuah resiko membawa dampak pada kehidupan kita. Resiko sekecil apapun dalam situasi yang salah bisa menjadi masalah besar bagi kita. Mungkin bukan anda yang kemalingan di kampung anda, tapi ketika itu terjadi setelah kita mulai bermalas-malasan dalam bergiliran jaga malam, anda akan merasakan betapa maling itu mengejek anda, karena menunggu lebih sabar.


0 komentar:

Posting Komentar