Cerpen : Sepuluh Tahun Lalu
Sepuluh
tahun lalu, ah, sialan. Sepuluh tahun lalu saja yang terus kuingat dan
kuperbandingkan dengan sepuluh tahun kemudian, tepat hari ini. Berhentilah
mengingat sepuluh tahun lalu yang sudah basi itu, Han. Sepuluh tahun yang lalu
itu memang nyata, tapi sudah menjadi sejarah yang berjamur. Yang nyata adalah
hari ini, lupakan sepuluh tahun lalumu.
Sepuluh
tahun lalu.
‘Kumohon
berhentilah memikirkan sepuluh tahun lalu, otakku,’ hati kecilku meminta. Tapi
otakku masih tetap enggan melepas sepuluh tahu lalu itu. Ia terus membuka
lembaran-lembaran kehidupanku sepuluh tahun lalu yang gilang gemilang, yang
terang cemerlang.
Sepuluh
tahun lalu, kau pemuda tampan, Han. Kau artis. Gadis-gadis, siapa pun dia, rela
datang dari tempat-tempat yang jauh ke tempat di mana ada panggung yang
memanggungkan ‘tahtamu’. Mereka berteriak memanggil namamu. ‘Han, Han, Han!’
sembari histeris, berebut bersalaman dan menciummu. Terkadang mereka pingsan
oleh kekaguman semu dan lemas dibakar panas matahari.
Sepuluh
tahun lalu, kau artis serba bisa, Han. Main sinetron, main film, bintang iklan,
host televisi, membuat album lagu cinta dengan syair yang melumerkan perasaan gadis-gadis
remaja. Penggemarmu tersebar di mana-mana dan menyebut diri mereka sebagai pecandumu.
Mereka memujamu dan bangga menjadi ‘umatmu’.
Sepuluh
tahun lalu, kau tak punya banyak waktu, Han. Setiap saat ada saja penyelenggara
panggung yang menyediakan ‘singgasanamu’ di atasnya. Kau tidur larut malam, dan
bangun di pagi buta. Setiap hari kau laksana memiliki kewajiban menyapa ‘umat-umatmu’
yang berdesakan menunggu.
Sepuluh
tahun lalu, mesin bahkan sulit menghitung uangmu. Ia seperti aliran air bah
yang membuatmu mandi kemewahan. Setiap penjual ramah padamu, dan menawarkan
benda-benda berkelas. Rumah panti menawarkan doa panjang untuk sedekah yang kau
masukkan ke dalam kotak amal mereka. Managermu memegang protokol kehidupanmu
yang penuh agenda tertata.
Sepuluh
tahun lalu, bergantian artis wanita yang ingin berkasih dan bersanding
denganmu. Dekat denganmu adalah jaminan meroketnya karir di dunia hiburan. Maka
tak urung, artis janda paruh baya pun mencoba tampil muda agar kau tergoda.
Mereka cantik mereka jelita, Han.
Sepuluh
tahun lalu, ya, tapi itu sepuluh tahun lalu, Han. Sekarang kau seperti bukan
seseorang yang sepuluh tahun lalu malang melintang di layar kaca. Kau seperti
bukan seseorang yang sepuluh tahun lalu selalu dielu-elukan. Kau seperti bukan
seseorang yang sepuluh tahun lalu nyaris tak membagi kesempatan pada yang lain
untuk mencari makan di dunia hiburan. Kau sungguh berbeda sekarang, Han.
Sepuluh
tahun lalu kau kaya, Han. Sekarang, kau seperti bukan seseorang yang pernah
memiliki uang milyaran. Kau seperti bukan seseorang yang jika berbelanja
layaknya orang yang menyebar uang dengan sesuka hatinya. Uang selembar sekarang
begitu bermakna, begitu berharga.
Sepuluh tahun
yang lalu, bukan waktu yang sudah terlalu lama, Han. Masih bisa diingat dengan
jelas. Kebangkrutanmu yang terlampau cepat, atau mungkin roda nasib yang
berputar terlampau cepat. Sepuluh tahun lalu kau tak pernah membayangkan sepuluh
tahun kemudian. Sepuluh tahun lalu wanita yang akhirnya kau pilih seperti dewi
yang paling setia, kau tak pernah membayangkan jika ia sekarang berubah menjadi
liar dan jalang.
Ketika roda
berputar dan sinarmu meredup, satu persatu meninggalkanmu, Han. Mereka seperti
tak pernah mengenalmu. Kau bahkan tak lagi menjadi Arjuna istimewa bagi
istrimu. Ia selalu pergi sembunyi-sembunyi, karena kebutuhan dan hasrat
mewahnya tak lagi bisa kau penuhi. Kau miskin sekarang, Han. Mobil terakhirmu
sudah laku, rumahmu tinggal satu.
“Aku minta
cerai!”
Kata-kata
itu menyadarkanku dari romantika sepuluh tahun lalu yang masih bercokol di
kepalaku. Sinta berdiri dengan bertolak pinggang. Benar kata otakku, ia seperti
bukan seseorang yang pernah bergayut manja di dadaku, di depan banyak kamera
wartawan hiburan, dan berkata kepada semua orang bahwa ia adalah wanita paling
beruntung di dunia karena bisa hidup bersama seorang Han.
“Sin? Kau
ingin meninggalkanku?”
“Ya, aku
tak bisa bertahan lagi, Han. Aku tak mau. Ceraikan aku, biarkan aku hidup
bahagia.”
Aku menelan
ludah. Bahkan, karena aku sadar uangku tak cukup lagi menurutkan
keinginan-keinginannya, aku sudah membebaskan dia untuk melakukan apa saja.
Membiarkan rasa cemburuku, rasa sakit hatiku. Semua itu demi kebahagiaannya.
Tapi rupa-rupanya itu tak pernah cukup.
“Kumohon,
Sin. Temani aku melewati masa-masa sulit ini. Apa pun yang ingin kau lakukan,
lakukan saja. Aku tak akan mempermasalahkannya, asal kau tak pergi dariku. Aku
akan berusaha mengembalikan kehidupan kita.”
“Dengan
cara bagaimana? Kamu memang artis, Han. Tapi sudah tidak laku. Kau pikir
gadis-gadis itu masih akan mengelu-elukanmu seperti dulu? Berhentilah
berangan-angan, Han. Terima kenyataan, kau ini artis yang sudah tak laku dan
bangkrut. Kau bukan aktor jempolan, bukan penyanyi legenda dengan suara emas,
bukan host berbakat, kau dulu hanya beruntung dengan wajah tampanmu. Hanya dalam
waktu tertentu kau bisa jualan tampang, Han. Sekarang mana ada yang mau membeli
tampangmu yang konyol begitu?”
“Sin, kau
seperti tak pernah mencintaiku...”
“Cinta itu
bendera yang suka dikibarkan anak remaja, Han. Untuk orang dewasa seperti kita,
bendera kita adalah kepastian hidup. Ada pekerjaan, ada uang, sehingga ada
kepastian bisa begini atau begitu, bukan ngambang tak jelas seperti keadaan
rumah kita sekarang ini.”
“Bukankah
aku sudah membebaskanmu untuk...?”
“Aku lelah
membohongi diri, Han. Lebih banyak rasa bersalahnya. Bagaimana pun aku ini
masih waras, bahwa itu adalah pengkhianatan. Bukankah lebih baik kita berpisah
daripada aku harus mengkhianatimu setiap saat?”
“Sin...pikirkan
sekali lagi, Sin.”
“Aku sudah
sejak lama memikirkannya, Han. Keputusan yang kuambil ini bukan tanpa
kupikirkan lebih dulu. Lebih adil kita bercerai saja, Han. Kau tak bisa
membiarkanku hidup dalam keadaan begini dan harus kutambahi pula dengan banyak
dosa pengkhianatan. Pokoknya aku mau bercerai. Aku akan ajukan gugatan, kau
boleh datang dalam sidang atau tidak. Terserah. Kupikir tidak datang malah
lebih baik, karena itu akan mempermudah prosesnya. Kalau kau mau melepaskanku
baik-baik, aku tak akan memanggil pengacara, tapi kalau kau bertahan, maka aku
akan memanggil pengacara. Alasanku apa adanya saja, karena kau sudah tak bisa
menafkahiku.”
Hening.
Keriuhan sepuluh tahun lalu sayup-sayup beriak-riak dalam pikiranku. Menggoda
kenyataan sulit dan pahit yang tengah harus kutelan bulat-bulat ini. Sinta
mengangkat telepon dari seseorang. Suaranya yang tadi begitu keras dan ketus
kepadaku, sekarang berubah menjadi lembut dan manja pada telepon itu. Kegelapan
dan kesuraman yang kurasakan semakin pekat saja saat Sinta mulai mengucapkan
kalimat-kalimat yang menjurus cabul dengan mendesah-desah manja, seakan
seseorang tengah mencumbunya. Lalu sekilas mataku menangkap telepon yang
dipakai Sinta. Sepertinya bukan telepon yang biasa, karena sebelumnya tak ada
gambar apel bekas digigit pada teleponnya.
Apa yang
ada pada sepuluh tahun lalu, sekarang tak bersisa.

0 komentar:
Posting Komentar