Asal Cuap : Membantu Pemerintah






Ketika kita berbicara tentang pemerintah, apa yang seketika itu kita pikirkan? Ya, tuntutan. Seharusnya pemerintah itu bisa begini, bisa begitu, bisa mempermudah ini, bisa mempermudah itu, bisa menggratiskan ini, bisa menggratiskan itu, bla, bla, bla.

Apakah sesekali kita pernah berpikir untuk mempermudah kerja pemerintah agar bisa begini atau begitu seperti yang kita mau? Tidak. Kita hanya tahu menuntut tanpa mau dituntut.
Kita mau pemerintah (misalnya pemerintah daerah) menyediakan tempat-tempat sampah di pinggir-pinggir jalan, tapi kita tanpa peduli membuang sampah ke kali. Lalu ketika kali banjir karena tersumbat sampah, kita beramai-ramai menyalahkan pemerintah karena kita anggap tidak tanggap.
Kita mau pemerintah memperbaiki jalan raya semulus-mulusnya, selebar-lebarnya sementara kita tak mau mematuhi peraturan berlalu lintas. Kita mau pemerintah memperbaiki layanan, menghilangkan pungli, sementara kita ogah mengantri dan cenderung mencari kemudahan sendiri dengan mencari cara untuk bisa ‘main belakang’.
Bagaimana pemerintah bisa memberi yang terbaik untuk kita kalau kita tak mau membantu, tapi malah cenderung membiarkan mereka kewalahan dan menjadi korup?
Menuntut orang lain jelas lebih mudah daripada menuntut diri sendiri. Negara terdiri dari pemerintah dan rakyat. Semua bisa saling menuntut dan semua harus mau saling dituntut. Keseimbangan akan terjaga manakala ada kemauan untuk saling menuntut dan mau saling dituntut.
Kita bisa mulai membantu dengan hal-hal kecil seperti, tertib berlalu lintas, menjunjung etika di jalan, mengantri, membuang sampah di tempat yang disediakan, berkompetisi dengan sehat, dan belajar menjadi sportif. Hal ini terlihat sepele, tapi jika 250 juta lebih orang Indonesia mau melakukan hal kecil yang terlihat sepele ini, hasilnya dahsyat. Kita akan menjadi negara yang sangat teratur.
“Ngomong apa lu, tong? Ngimpi aja lu!”
Ya, memang hal ini masih merupakan impian, dan ini adalah sedikit usaha untuk membantu pemerintah mempermudah kehidupan kita. Berhasil menginspirasi satu dua orang dengan hal positif akan tetap lebih baik daripada menghasut jutaan orang, karena hanya akan menghasilkan kerusakan.

0 komentar:

Posting Komentar