Berita Basi : Keadilan




Beberapa waktu lalu pemerintah memutuskan untuk memberikan harga BBM yang setara dengan wilayah lain di Indonesia bagi Papua dan Kalimantan Utara.
Meskipun Pertamina mengaku harus merugi hingga 400 milyar pertahun jika harus memberikan harga yang setara dengan wilayah lain bagi Papua dan Kalimantan Utara karena biaya pendistribusiannya yang demikian tinggi, tapi pemerintah tetap pada keputusannya.
“Ini masalah keadilan!” itu kalimat yang ditekankan Presiden.
Pemerintah meminta Pertamina untuk melakukan subsidi ulang agar bisa menekan kerugian. Distribusi BBM di Papua memang harus menggunakan pesawat sehingga Pertamina sendiri akhirnya meminta pemerintah untuk menambah jumlah pesawat agar kelangsungan distribusi selalu terjaga.
Sebelum Presiden Joko Widodo menghapus subsidi BBM di awal pemerintahannya, pemerintah harus mengeluarkan puluhan trilyun setiap tahun untuk mensubsidi BBM jenis Premium dan Solar. Subsidi itu sendiri cenderung dinikmati golongan menengah ke atas.
Jika sekarang pemerintah “hanya harus tekor lebih sedikit” agar anak-anak bangsa yang ada di Papua juga bisa menikmati harga yang sama dengan saudara-saudaranya di wilayah lain dan geliat ekonomi di sana beranjak baik, rasanya kita patut memberikan dukungan kepada pemerintah.
Lagipula jika harga BBM di Papua dan Kalimantan Utara sama dengan wilayah lain, bisa menghentikan praktek-praktek kotor penimbunan BBM di Jawa untuk dijual secara diam-diam ke sana demi keuntungan satu dua pihak karena faktor perbedaan harga yang demikian tinggi.
Kita memang cukup melihatnya dari kacamata keadilan tentang keputusan pemerintah ini. Pemerintah sendiri pastinya sudah memikirkan lebih jauh agar Pertamina minimal tak merugi kelewat besar atau syukur-syukur tetap mendapat untung meskipun sedikit.
Tapi memang setiap keputusan pemerintah yang sedianya untuk kemaslahatan hidup seluruh masyarakat tak akan luput dari kritikan, baik kritikan yang bersifat membangun maupun kritikan yang cenderung menghujat dan (kebanyakan) tanpa solusi.
Setiap hal yang diputuskan pemerintah memang belum tentu akan memuaskan semua pihak, dan setiap keputusan belum tentu adalah sebuah pilihan terbaik. Maka dibutuhkan kontrol agar pemerintah tetap berada pada rel yang benar.
Tapi sekali lagi, memberikan kritik seyogyanya disertai dengan gambaran solusi, bukan menghujat dan cenderung menyalahkan yang terkesan membodohkan.
Sudah cukup lama saudara-saudara kita di Papua terlupakan. Jika pemerintah sebagai orang tua ingin bersikap adil terhadap anak-anaknya yang ada di Papua, semestinya kita ikut mendukung keputusan itu. mereka adalah saudara-saudara kita tercinta yang sama dengan kita, satu ikatan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar