Cermin : Tertawa




Kawan, kau pernah tertawa?
Aku pernah tertawa, mentertawakan kebodohan seorang tentara yang istrinya tergila-gila untuk bertualang denganku. Apa? Jangan berlagak bodoh, tentu saja bertualang di ranjang. Seringnya aku bertualang dengan istri tentara itu di ranjang-ranjang hotel melati. Kerennya, petualangan itu juga sering kami lakukan di ranjang ‘sakral’ milik mereka.
Tentara itu berperawakan tinggi besar, tapi tipikal lelaki loyo dan tidak loveable. Kata istrinya – saat kami sedang berbincang di antara deru nafas memburu dan desah-desah nikmat yang sangat – mereka dijodohkan. Suaminya yang tentara itu anak seorang Carik. Apa? Kau tak tahu Carik? Carik itu nama Jawa untuk seseorang yang menjabat sekretaris desa.
Meskipun anak seorang carik yang tentu saja priyayi, suaminya berwajah jelek. Istrinya dulu menolak, tapi karena orang tua mereka yang sok feodal itu sangat keras, jadilah ia tak bisa menampik perjodohan itu dan menikah.
Pernikahan dengan cinta searah tentu tak membuat hidup mereka bahagia, kawan. Kebahagiaan hanya milik suaminya yang jelek, tapi mendapat anugerah istri cantik. Sedang Istrinya yang cantik sulit untuk menerima takdir mendapat suami yang jelek, meskipun seorang tentara yang bergaji rutin setiap bulan dan dihormati. Hidup tentu tak hanya butuh kehormatan, tapi juga butuh yang lain.
Karena mendapat istri yang cantik, suaminya berusaha untuk selalu menyenangkan hati istrinya. Semua keinginannya dipenuhi dan dituruti. Sang suami bahkan rela mencuci pakaian sendiri dan mengerjakan pekerjaan rumahnya semata-mata demi menyenangkan sang istri yang cantik. Perlengkapan kecantikan tak pernah kehabisan, uang belanja diberikan beserta slip struknya. Sang istri berkuasa di dalam rumah.
Meskipun begitu, kawan, sang istri tak juga merasa terpuaskan. Meskipun sang suami sudah layaknya budak pencari uang dan pembantu di rumah, ia tak bisa bahagia karenanya. Kebencian terhadap suaminya justru semakin bertambah. Ia juga sadis, kawan. Jatah seks untuk suaminya hanya dua minggu sekali. Selebihnya, ia memilih untuk berfantasi sendiri, membayangkan ia yang cantik dan molek digauli lelaki tampan gagah perkasa.
Sampai pada suatu hari, ia bertemu denganku di sebuah kafe. Aku menyapa seorang wanita cantik yang duduk sendiri di sudut Kafe Lolita. Sapaanku disambut dengan senyum terbuka dan ia senang hati mempersilakan aku bergabung dengannya. Kami berbincang beberapa lama hingga malam mengharuskan ia dan aku pulang.
Pada pertemuan kami selanjutnya di kafe yang sama, percakapan kami berlangsung wajar. Ia bercerita tentang anak semata wayangnya, suaminya, kehidupannya, pengalamannya di masa lalu dan sebagainya. Aku juga bercerita dengan wajar, kawan. Kuceritakan istriku, anak-anakku, kehidupan kami, masa laluku. Mulanya aku hanya senang melihat wajah cantiknya, tapi lama-lama aku tertarik dengannya. Perangainya membuatku berfantasi dan membayangkan hal-hal terlarang.
Karena aku dan dia membiarkan diri masing-masing untuk selalu bertemu, maka setan tak ingin kehilangan momentum. Secara wajar, petualangan kami dimulai. Dan sejak itu aku berada di pihak ia yang membenci suaminya. Kalau ia membenci suaminya, maka aku mentertawakan suaminya yang tak pernah mampu mendapat cinta istrinya sendiri meskipun ia sudah memberikan segalanya, termasuk dengan menjadi budak istrinya sendiri.
Sedangkan aku? Tak perlu melakukan apapun, kecuali menyenangkannya dengan memberinya kepuasan dalam petualangan yang penuh permainan terlarang. Petualangan seperti itu akan sulit ditinggalkan jika sudah kau lakukan, kawan. Seperti candu yang membelenggumu, atau semacam lingkaran setan yang mengikatmu. Kau tak bisa pergi.
Petualangan kami berjalan menyenangkan selama beberapa tahun. Aku seperti menemukan kenikmatan hidup yang sebenarnya, sampai pada suatu malam, suaminya tiba-tiba mendobrak pintu kamar di mana ranjang sakral miliknya kupakai untuk bertualang bersama istrinya. Aku bukan hanya terkejut, tapi juga ciut dan takut.
Aku tak bisa tertawa seperti biasanya, kawan. Malam itu, suaminya tampak seperti tentara seharusnya yang gagah berani dan tampak marah. Di tangannya, SS terkokang. Kau tak tahu SS, kawan? Senjata otomatis milik tentara buatan dalam negeri. Seketika ia memberondong kami berdua yang telanjang dengan peluru-peluru tajamnya dan suaranya yang memekak di telinga. Aku sempat merasakan sekarat, kawan. Lalu aku merasa aku tak lagi berada di mana-mana. Aku masih sempat melihat tentara itu menyumpah dengan marah dan terus menembakkan senjatanya membabi buta.
Lalu aku bertemu kau di sini, kawan. Sekarang, ceritakan padaku, tempat apa ini. Di mana? Kenapa aku tak bisa pulang?
Apa? Jadi aku sudah mati?

0 komentar:

Posting Komentar